GANGGUAN BERBAHASA PADA ANAK USIA DINI
( GAGAP )
Disusun untuk memenuhi nilai mata kuliah
KAJIAN KEBAHASAAN
Disusun Oleh :
MUHAMMAD LUTHFI ( A1D117005 )
KELOMPOK 10
Dosen Pengampu : Drs. Maryono. M.Pd
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2019
BAB1
PENDAHULUAN
KATA PENGANTAR
Puji syukur alhamdulillah kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena telah melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan sehingga makalah ini bisa selesai pada waktunya.
Terima kasih juga kami ucapkan kepada teman-teman yang telah berkontribusi dengan memberikan ide-idenya sehingga makalah ini bisa disusun dengan baik dan rapi.
Kami berharap semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan para pembaca. Namun terlepas dari itu, kami memahami bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga kami sangat mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun demi terciptanya makalah selanjutnya yang lebih baik lagi.
LATAR BELAKANG
Gagap adalah kondisi di mana penderitanya mengalami gangguan dalam berbicara. Penderita gagap biasanya mengulang suku kata atau memperpanjang penyebutan suatu kata ketika berbicara.
Gagap dapat dialami oleh segala usia. Umumnya, kondisi ini diderita oleh anak-anak usia di bawah 5 tahun. Gagap pada anak usia tersebut merupakan bentuk ketidakmampuan dalam menyampaikan maksud. Hal ini tergolong wajar dan dapat hilang dengan sendirinya, seiring bertambahnya usia.
Namun, gagap juga dapat disebabkan karena adanya gangguan pada otak, saraf, atau otot yang terlibat dalam kemampuan berbicara. Jika dibiarkan, kondisi gagap dapat memburuk, serta berdampak pada hilangnya kepercayaan diri dan mengganggu hubungan sosial.
Definisi Gagap Menurut KBBI adalah : gangguan bicara (kesalahan dl ucapan dengan mengulang-ulang bunyi, suku kata atau kata, kelainan bicara berupa pengulangan konsonan dan suku kata secara spasmodis, disebabkan oleh gangguan psikofisiologis dan lebih banyak terjadi pada pria.
Chaer (2009:153) menjelaskan bahwa gagap merupakan suatu kondisi dimana pembicara mengalami kekacauan saat berbicara karena tersendat-sendat, mendadak berhenti, mengulang-ulang suku kata pertama hingga penderita berhasil berbicara hingga selesai. Penderita gagap ini sering kali tidak berhasil mengucapkan suku kata awal, dengan susah payah hanya mampu mengucapkan konsonan atau vokal awalnya saja. Lalu, ia memilih kata lain dan berhasil menyelesaikan kalimat tersebut meskipun dengan susah payah juga.
BAB II
PEMBAHASAN
PENGERTIAN GAGAP
Gagap adalah ketidaknormalan verbalisasi kata yaitu tingginya penghentian bicara, suku kata atau salah satu huruf dalam suku kata, penahanan dan pengulangan bunyi, serta penggantian kata untuk menghindari kata yang menimbulkan masalah (Bogue, 2009; Guitar, 2006; Halgin & Whitbourne, 2010; Parker & Parker, 2002; Walden, dkk., 2012). Orang dengan gangguan gagap berbicara dengan penekanan fisik yang berlebihan seperti sulit bernafas, mata berkedip cepat, mulut bergetar dan ekspresi wajah seperti berjuang keras untuk bicara (Mahr & Torosian, 1991).
American Psychiatric Association (2000) dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV TR) kode 307.0 memuat kriteria gagap yaitu :1. Gangguan pola dan ketidaklancaran bicara di usia yang tidak seharusnya, karakteristik diikuti oleh satu atau lebih tanda : a. Pengulangan bunyi dan suku kata b. Perpanjangan bunyi kata c. Interjeksi atau penyisipan dalam kalimat d. Kata-kata yang rusak (ada penghentian pada kata atau kata-kata yang terputus-putus) e. Menahan suara atau diam (berisi jeda selama berbicara) f. Memakai kata yang banyak (mengganti kata-kata untuk menghindari katakata yang bermasalah) g. Mengatakan sesuatu dengan penekanan fisik yang berlebihan h. Mengulang kata atau suku kata keseluruhan (“Dari,dari mana kamu?”) 2. Gagap dapat mengganggu prestasi akademik atau kerja, dan komunikasi sosial 3. Jika kondisi neurologis untuk berbicara tidak berfungsi normal, maka tanda gangguan medis pada axis III ditegakkan. Yairi dan Ambrose (2013) menyatakan gangguan gagap pada populasi di dunia mencapai 5% pada dekade terakhir ini. Penelitian itu terbatas pada negaranegara di Amerika, Eropa dan Australia. Pada beberapa negara lainnya, dilaporkan lebih besar hingga mencapai 8%.Prevalensi terjadinya gangguan gagap sepanjang rentang kehidupan adalah sekitar 1,99% pada usia 3 - 10 tahun dan menurun 1,15% pada usia 11 – 17 tahun. Rasio laki-laki dan perempuan adalah 4 : 1 (Drayna & Kang, 2011).
PENYEBAB GAGAP
Menurut Chaer (2009:153-154), kegagapan dapat terjadi karena beberapa faktor berikut.
Faktor-faktor stres dalam kehidupan berkeluarga.
Pendidikan anak yang dilakukan secara keras dan kuat dengan membentak-bentak serta tidak mengizinkan anak berargumentasi dan membantah.
Adanya kerusakan pada belahan otak (hemisfer) yang dominan.
Faktor neurotik famial
Nujaya (2013) menyatakan bahwa gagap bisa disebabkan oleh faktor fisik maupun psikologis. Faktor fisik kemungkinan berasal dari keturunan yang menyebabkan ketidaksempurnaan secara fisik seperti gangguan pada syaraf bicara, gangguan alat bicara, dan keterbatasan lidah. Sedangkan faktor psikologis yaitu ketagangan yang berasal dari reaksi seseorang terhadap linngkungan, diantaranya adalah stres mental karena sesuatu yang dirasakan namun tidak mampu untuk dilakukan.
Menurut penelitian, gagap lebih banyak disebabkan oleh faktor psikologis dibandingkan fisiologis. Trauma, ketakutan, kecemasan, dan kesedihan pada masa kecil menyebabkan seseorang menjadi gagap sampai dewasa. Misalnya, anak yang kedua orangtuanya sering bertengkar sehingga membuat anak takut, cemas, sedih, dan sering menangis.
Terjadinya gagap dipengaruhi oleh beberapa faktor. Dalam literatur dijelaskan kemungkinan faktor risiko gagap sangat banyak, termasuk jenis kelamin, predisposisi genetik, stress emosional dan fisik, reaksi personal, keluarga dan sosial serta perilaku keluarga. Jenis kelamin merupakan faktor risiko penting untuk gagap. Jika dijumpai gangguan komunikasi, risiko terkena gagap paling tinggi pada anak laki-laki. Stress emosional dapat merupakan awal terjadinya gagap seperti perceraian orangtua, kematian hewan peliharaan. Stress fisik yang dapat menjadi awal terjadinya gagap seperti masalah pernafasan, pembedahan atau penyakit yang memerlukan perawatan.Perilaku keluarga yang tidak baik juga mempengaruhi ketidaklancaran bicara pada anak.Salah satunya kecepatan ibu berbicara kepada anak mempengaruhi kemampuan anak berbicara. Sebuah studi menunjukkan penurunan kecepatan ibu berbicara menyebabkan penurunan kecepatan anak berbicara sehingga terjadi perbaikan kelancaran bicara pada anak yang gagap.
Manifestasi klinis, Beberapa orang gagap, memiliki masalah bahasa dan bicara lain, seperti gangguan fonologi atau gangguan bahasa ekspresif. Gagap tidak terjadi tiba-tiba, tetapi secara khas terjadi selama beberapa minggu atau bulan dengan pengulangan konsonan awal, keseluruhan kata pertama di dalam ucapan, atau kata-kata yang panjang. Seiring dengan berkembangnya gangguan, pengulangan menjadi lebih sering, dengan gagap yang konsisten pada kata-kata atau ucapan yang paling penting.
Anak gagap memilki masalah dalam mengucapkan kata, seperti mengulang kata atau suku kata berulang-ulang (boleh-boleh-bolehkah saya pergi), membuat suara panjang (boooooooooolehkah saya pergi), berhenti tiba-tiba tanpa ada suara yang terdengar. Orang gagap dapat disertai dengan beberapa gejala fisik, seperti kedipan mata, kerutan pada kening, kekakuan yang jelas pada wajah. Frustasi, ansietas, dan depresi lazim ditemukan pada orang dengan gagap kronis.
CARA PENGOBATAN GAGAP
TERAPI
Di masa lalu, pendekatan terapi gagap berdasarkan etiologinya. Awalnya modalitas terapi gagap berfokus pada kelainan lidah atau laring. Saat ini modalitas terapi gagap berdasarkan prinsip perilaku yang bertujuan untuk menghasilkan bicara yang lebih fasih, disertai pengurangan kecemasan yang berhubungan dengan gangguan bicara. Terapi gagap meliputi latihan pernafasan, teknik relaksasi dan terapi bicara untuk membantu anak memperlambat bicara dan mengatur volume bicara. Satu contoh terapi yang diajukan oleh Speech Foundation of Americaadalah terapi diri sendiri. Terapi diri sendiri didasari pada pemikiran bahwa gagap bukanlah suatu gejala tetapi suatu perilaku yang dapat diubah. Metodenya mencakup desensitisasi, mengurangi reaksi mental dan rasa takut akan gagap, serta penggantian tindakan postif untuk mengendalikan saat gagap.
Terapi yang baru-baru ini dikembangkan berpusat pada restrukturisasi kelancaran. Keseluruhan pola produksi bicara dibentuk kembali, dengan penekanan pada berbagai perilaku target, termasuk pengurangan laju, onset bersuara dengan halus dan mudah, serta transisi yang halus antara bunyi, suku kata dan kata. Terapi farmakologi sudah banyak di uji coba, tetapi sampai saat ini belum ada yang disetujui oleh the U.S Food and Drug Administration(FDA) sebagai terapi untuk gagap.
Penelitian pencitraan menduga orang gagap mengalami hipometabolisme striatum dan peningkatan aktivitas dopamin. Bukti ini menunjukkan bagaimana antagonis dopamin menurunkan gagap dengan meningkatkan metabolisme striatal melalui penghambatan reseptor D2 di striatum. Penelitian farmakologi menunjukkan aktivitas dopamin yang rendah sesuai dengan perbaikan gejala gagap. Terapi farmakologi yang dapat digunakan antara lain: .Haloperidol. Beberapa studi tentang haloperidol, antagonis dopamin konvensional dan antipsikotik, menunjukkan pengobatan ini dapat memperbaiki kelancaran pada anak gagap.
Tetapi penggunaan jangka panjang haloperidol dapat menyebabkan efek samping disforia, disfungsi seksual, gangguan ekstrapiramidal, dan risiko diskinesia. Sebuah penelitian uji acak tertutup ganda tentang penggunaan haloperidol pada gagap, menunjukkan delapan pasien mengalami perbaikan klinis dalam hal waktu gangguan kelancaran bicara, tetapi perbaikan ini bermakna hanya pada pasien yang mengalami gangguan kelancaran lebih dari 30%2.Risperidon. Generasi terbaru antagonis dopamin yang memiliki efek samping lebih sedikit dibandingkan dengan haloperidol adalah risperidon, dalam sebuah uji acak tertutup ganda risperidon memperbaiki gejala gagap dengan dosis 0.5-2 mg/hari
Baca Buku
Mintalah Si Kecil untuk membaca buku dengan suara keras. Meski diawal percobaan ia akan sulit mengatur napas, tapi dengan cara ini ia bisa belajar berbicara lancar maupun mengatur napas. Perlu diketahui, jika salah satu masalah besar anak-anak yang gagap adalah bernapas saat membaca atau berbicara. Untuk belajar cara mengatur napas, Si Kecil perlu berlatih cara sederhana seperti menghirup dan menghembuskan napas. Ini juga akan membantunya berbicara dalam kecepatan sedang.
PENGOBATAN DI RUMAH
Apa saja perubahan-perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi gagap?
Berikut adalah gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda mengatasi gagap:
Dengarkan anak Anda dengan penuh perhatian: jaga kontak mata alami saat ia berbicara.
Tunggu anak Anda hingga mengatakan kata-kata yang ingin ia katakan: jangan memotongnya untuk menyelesaikan kalimat.
Sisakan waktu untuk Anda dapat berbicara dengan anak tanpa gangguan: waktu makan adalah kesempatan untuk pembicaraan dengan anak.
Berbicara dengan perlahan dan tidak terburu-buru: jika Anda berbicara dengan cara ini, anak Akan mengikuti Anda, yang dapat mengurangi gagap.
Bergantian dalam berbicara: dorong setiap anggota keluarga agar menjadi pendengar yang baik dan bergantian saat berbicara.
Buatlah suasana tenang: buatlah atmosfir yang tenang di rumah agar anak Anda merasa nyaman berbicara dengan leluasa.
Jangan terfokus pada kondisi gagap anak: cobalah untuk tidak menarik perhatian pada kondisi gagap dalam interaksi sehari-hari. Jangan mengekspos anak Anda kepada situasi yang terburu-buru, tertekan, atau memerlukan anak Anda untuk berbicara di depan umum.
Berikan lebih banyak pujian daripada kritik: lebih baik memuji anak untuk berbicara dengan lancar daripada menarik perhatian terhadap kondisi gagap. Jika Anda ingin memperbaiki bicara anak, lakukan dengan cara yang lembut dan positif.
Terima anak Anda sepenuhnya: jangan bereaksi negatif, mengkritik, atau menghukum anak Anda karena gagap. Hal ini dapat menambahkan perasaan tidak percaya diri. Dukungan dapat memberikan perubahan yang besar.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Gagap adalah gangguan bicara yang membuat suku kata atau kata-kata diulang atau diucapkan secara berkepanjangan sehingga mengganggu aliran bicara yang normal. Gangguan bicara ini dapat disertai dengan perilaku berulang, seperti kedipan mata yang cepat dan bibir bergetar.
Gagap umum terjadi pada anak-anak sebagai bagian normal dari belajar berbicara. Anak-anak kecil mungkin gagap saat kemampuan bicara dan berbahasa tidak cukup berkembang untuk mengikuti apa yang ingin dikatakan.
DAFTAR PUSTAKA
ARTIKEL NADYA PUSPITA SARI – PENELITIAN MASALAH GAGAP PADA ANAK DI SUMATERA BARAT – UNIVERSITAS ANDALAS – 2015
JURNAL PENGOBATAN MASALAH BERBAHASA PADA ANAK OLEH PRABA PRAYASCITTA – PROGRAM STUDI BIOLOGI – UNIVERSITAS GAJAH MADA – 2009
EMPATHIC LOVE THERAPY UNTUK MENURUNKAN KECEMASAN PADA ORANG DENGAN GANGGUAN GAGAP - I PUTU ARDIKA YANA - Universitas Gadjah Mada – 2015
ANALISIS GANGGUAN GAGAP – HENY PURWANINGSIH – UNIVERSITAS PADJAJARAN - 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar