Senin, 07 Oktober 2019

Gangguan Berbahasa Latah

KHUSNA WULANDARI
A1D117020
khusna.wulandari 99@gmail.com

" GANGGUAN BERBICARA LATAH "

LATAR BELAKANG
Proses berbahasa dimulai dengan enkode semantik, enkode gramatika, dan enkode fonologi. Enkode semantik dan enkode gramatik diproses di dalam otak, sedangkan enkode fonologi diproses di otak dan diwujudkan oleh alat-alat bicara yang  melibatkan  sistem  saraf  otak  (neuromiskuler)  (Chaer,  2009:  148).  Prosesproses  enkode  tersebut  harus  berjalan  beriringan,  karena  apabila  satu  proses mengalami  gangguan,  maka  akan  menghambat  hasil  akhirnya  yakni  berupa tuturan, dan tentunya yang dimaksudkan tuturan di sini adalah  tuturan yang sesuai dengan maksud, ketatabahasaan, dan dimengerti oleh pendengar. Secara medis Sidharta (Chaer, 2009: 148) membedakan gangguan bahasa menjadi tiga golongan, yakni ganguan berbicara, gangguan berbahasa, dan gangguan berpikir. Beliau menambahkan ketiga gangguan ini masih dapat diatasi kalau  penderita  gangguan  ini  mempunyai  daya  dengar  yang  normal,  bila  tidak tentu menjadi sukar. Beliau memadukan kedua aliran yang begitu kuatnya yakni nativisme  (mentalisme)  dan  behaviorime,  beliau  juga  menghendaki  faktor auditoris  sebagai  solusi  mengatasi  gangguan  berbahasa  (language  disorders). 

Fenomena latah sempat mengejutkan dunia luar yang kemudian mereka buru-buru menyebutnya  sebagai  perilaku  abnormal,  perilaku  kegilaan,  dan  di  luar  batas kewajaran. Nyata adanya ketika tiba-tiba bentuk lingual yang merujuk pada alat kelamin laki-laki tiba-tiba terungkap dengan spontan. Hal inilah yang menyebabkan beberapa  peneliti  Barat  menyebutnya  sebagai  penyakit  jiwa,  atau  sebuah  kondisi yang sulit dimengerti sebab akibatnya (Geertz 1968. Chaer  (2009:  154)  memberikan  gambaran tentang  awal  mula  timbulnya  latah  ini,  menurut  mereka  yang  terserang  latah, adakah setelah bermimpi melihat banyak sekali penis lelaki sebesar dan sepanjang belut.

PEMBAHASAN

Pengertian Latah

Latah sering  disamakan  dengan  ekolalla  yaitu  perbuatan  membeo  atau menirukan apa yang dikatakan  orang  lain. Latah  merupakan  suatu  emosi kebudayaan  yang  khas  dari  masyarakat  (Gimmlette,  1912;  Kenny,  1978;  dan Winzeler, 1995 dalam Kadir, 2009: 50). Namun  Chaer  (2009:  154)  memberikan  gambaran tentang  awal  mula  timbulnya  latah  ini,  menurut  mereka  yang  terserang  latah, adakah setelah bermimpi melihat banyak sekali penis lelaki sebesar dan sepanjang belut. Pendapat  Gimmlette,  Kenny,  Winzeler,  dan  Geentz  dilengkapi  oleh Dardjowidjojo  (  2008:  154 )  yang  menekankan  aspek  prilaku  seperti  yang diungkapkan  Chaer  (2009).  Beliau  berkata  bahwa  latah  merupakan  suatu  tindak kebahasaan di mana seseorang ketika terkejut atau dikejutkan mengeluarkan katakata secara  spontan  dan  tidak  sadar  dengan  apa  yang  dikatakan.
Winzeler (1995:74-78) menyampaikan hasil penelitiannya terkait perilaku latah yang terjadi  pada  masyarakat  pribumi  sebagai  sebuah  bentuk  ketakutan  pada  kolonial yang  berbadan  tinggi,  besar  dan  bekulit  putih.
 Latah adalah suatu tindak kebahasaan pada waktu seseorang terkejut atau dikejutkan, tanpa sengaja mengeluarkan kata-kata secara spontan dan tidak sadar dengan apa yang diucapkannya. (soenjono dardjowidjojo, 2003 : 154). Menurut psikolog eva septiana barlianto m.si, “latah adalah kebiasaan mengulang kata-kata terakhir yang diucapkan berkali-kali terutama pada kondisi kaget atau situasi tidak sesuai dengan orang yang bersangkutan. Latah bisa berupa kata lengkap atau hanya potongan kata paling akhir.
Jurnal pertama mengungkapkan bahwa latah itu merupakan kegiatan meirukan orang lain, dijurnal yang kedua menyebutkan bahwa latah itu sendiri adalah suatu bentuk perilaku karena merasa takut pada  kolonial yang  berbadan  tinggi,  besar  dan  bekulit  putih, edangkan di teori yang terakhir menyebutkan bahwa layah itu sendiri merupakan reaksi terkejut yang dialami seseorang sehingga dia seketika melontarkan kata-kata yang tidak ia sadari. Dari ketiga sumebr jurnal diatas, diketahui jika pengetian dari latah itu sendiri merupakan perilaku meniru perkataan orang lain yang disebabkan karena reaksi terkejut dan melontarkan kata-kata yang tidak disadarinya.

B. Penyebab Latah

Latah diketahui dari penelitian sebelumnya disebabkan karena mimpi alat kelamin. Penuturan mencengangkan bahwa mimpi seperti itu tidak hanya sekali namun terus berulang,  bahkan  semakin  hari  semakin  ekstrem.  Keekstreman  mimpi  yang menggambarkan  alat  kelamin  yang  terus-menerus  mengejarnya,  dalam  jumlah sangat  banyak,  bergelantungan  di  kamar  tidurnya,  ada  yang  terletak  dalam keranjang  dengan  tekstur  besar  dan  merah,  melompat-lompat  dan  terus mengejarnya,  sungguh  membuat  pengalaman  traumatis  bagi  individu  dengan kepribadian tertentu (Maramis  2009).
Peristiwa  psikologis  yang  melatar belakangi  munculnya  bentuk  lingual  menjadi energi  lebih  yang  mendorong  terbentuknya  pola  perilaku  latah.  Penuturan  para informan  sungguh  mencengangkan  yang  kemudian  membenarkan  teori  Freud (1987,  2006)  dan  Jung  (1989),  yang  menyebutkan  bahwa  peristiwa  psikologis  yang menahun  dan  ditahan  karena  tidak  dapat  terealisasi  dalam  kenyataan  maka  hal tersebut  tidak  akan  pernah  hilang.  Peristiwa  yang  diinginkan  tersebut  tetap  akan bertahan  dalam  diri  manusia  (baca:otak)  yang  terus  menunggu  pemenuhan. Pemenuhan  yang  tidak  kunjung  datang  akhirnya  hal  tersebut  dipindahkan penyimpanannya  dalam  otak  taksadar  manusia.  Proses  penahanan  dalam  otak  tak sadar  manusia  pun  masih  berharap  mencapai  pemenuhan,  namun  bila  tidak,  hal tersebut akan diubah bentuknya dalam mimpi. Penggambaran  mimpi  seperti  disebutkan  di  atas  dan  kemudian  muncul  reaksi perilaku latah dengan sederet bentuk lingual yang muncul yang merujuk pada alat kelamin, disebutkan oleh Jung (1989)  hal itulah sebenarnya penyebabnya. Artinya, bentuk  lingual  yang  secara  spontan  muncul  tersebut  merupakan  gambaran  dari keinginan yang tidak dapat terealisasikan dalam kenyataan. Sedangkan, gambaran mimpi  yang  demikian  ekstrim  disebutkan  oleh  Jung  hal  itulah  yang  sebenarnya menjadi pemicu.
Hal tersebut di atas terjadi pada individu latah. Kata-kata yang ke luar dari individu latah seolah tanpa kontrol, sehingga dianggap tabu  karena  kata-kata  yang  keluar  rata-rata  adalah  kata-kata  yang  mengandung makna  “tabu  atau  kurang  sopan”  dalam  masyarakat.  Penutur  (individu  latah) sebenarnya tidak nyaman dengan kondisi tersebut, namun pada saat kesadarannya menurun  (ditepuk,  jatuhnya  sebuah  objek),  tiba-tiba  kata-kata  “tabu”  tersebut muncul begitu saja.
Maramis (dalam Chaer, 2002: 154) mengatakan bahwa awal mula timbulnya latah menurut mereka yang terserang latah adalah setelah bermimpi melihat banyak sekali penis laki-laki sebesar dan sepanjang belut. Latah ini punya korelasi dengan kepribadian histeris. Kelatahan ini merupakan “excause” atau alasan untuk dapat berbicara dan bertingkah laku porno, yang pada hakikatnya berimplikasi invitasi seksual. Khaltarina mengungkapkan bahwa, ”latah memiliki dimensi gangguan fungsi pusat syaraf, psikologis, dan sosial. Berdasarkan kajian yang dilakukan, gangguan latah biasanya tumbuh dalam masyarakat terbelakang yang menerapkan budaya otoriter. Latah dianggap sebagai satu sindrom budaya masyarakat setempat.”

C Solusi Mengatasi Latah

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku latah dapat terjadi akibat seringnya subyek berinteraksi dengan orang-orang yang juga menderita latah, sehingga terjadi proses pengamatan. Di samping itu, penguat positif yang diberikan oleh orang-orang sekitarnya menyebabkan subyek cenderung mempertahankan perilaku latahnya. Pada awal latahnya,subyek merasakan ketidak nyamanan, sehingga mengupayakan untuk sembuh, akan tetapi karena upayanya tidak membuahkan hasil mereka akhirnya bisa menerima keadaan dirinya yang latah.
Sedangkan upaya-upaya yang dilakukan, antara lain memakan jangkrik, melakukan shock therapy setiap hari Jum’at, bersikap judes supaya tidak diganggu, menggigit lidah agar tidak mudah latah, mengikuti terapi FGD, disiram dengan air bekas cucian perabot rumah tangga, meminum air yang sudah dijampi-jampi ataupun di do’a-do’a. Adapun upaya-upaya yang dilakukan tidak membuahkan hasil dalam mengatasi perilaku latah, disebabkan karena selain ada kecenderungan mempertahankan perilaku latahnya untuk mendapat perhatian, lingkungan juga kurang mendukung kesembuhan subyek, di samping itu juga disebabkan ketidak tahuan subyek mengenai cara penanganan yang benar yaitu dengan berkonsultasi kepada dokter atau ahli jiwa.
Sedangkan menurut penulis, solusi yang tepat dalam menangani gangguan ini adalah dengan tidak berkumpul dengan orang yang suka memaning timbulnya kelatahan tersebut, dan sedikit demi sedikit menoba agar tidak gampang terpancing dan kaget dengan suatu hal. Solusi lain untuk mengatasi gangguan ini dadalah dengan mengganti kata- kata yang dianggap tabu dengan kata yang baik didengar.


DAFTAR PUSTAKA
Indah, R. N. (2017). Gangguan berbahasa: Kajian pengantar.

KUSUMAWATI, K. (2009). GANGGUAN LATAH (Studi Tentang Faktor Penyebab dan Kondisi Psikologis) (Doctoral dissertation, University of Muhammadiyah Malang).

Sri Pamungkas Dkk. 2017. Menafsir Perilaku Latah Coprolalia pada Perempuan Latah dalam Lingkup Budaya Mataraman: Sebuah Kajian Sosiopsikolinguistik. Jurnal pendidikan .17 (2):273-290

Tidak ada komentar:

Posting Komentar