KHUSNA WULANDARI
A1D117020
khusna.wulandari 99@gmail.com
" GANGGUAN BERBICARA LATAH "
LATAR BELAKANG
Proses berbahasa dimulai dengan enkode semantik, enkode gramatika, dan enkode fonologi. Enkode semantik dan enkode gramatik diproses di dalam otak, sedangkan enkode fonologi diproses di otak dan diwujudkan oleh alat-alat bicara yang melibatkan sistem saraf otak (neuromiskuler) (Chaer, 2009: 148). Prosesproses enkode tersebut harus berjalan beriringan, karena apabila satu proses mengalami gangguan, maka akan menghambat hasil akhirnya yakni berupa tuturan, dan tentunya yang dimaksudkan tuturan di sini adalah tuturan yang sesuai dengan maksud, ketatabahasaan, dan dimengerti oleh pendengar. Secara medis Sidharta (Chaer, 2009: 148) membedakan gangguan bahasa menjadi tiga golongan, yakni ganguan berbicara, gangguan berbahasa, dan gangguan berpikir. Beliau menambahkan ketiga gangguan ini masih dapat diatasi kalau penderita gangguan ini mempunyai daya dengar yang normal, bila tidak tentu menjadi sukar. Beliau memadukan kedua aliran yang begitu kuatnya yakni nativisme (mentalisme) dan behaviorime, beliau juga menghendaki faktor auditoris sebagai solusi mengatasi gangguan berbahasa (language disorders).
Fenomena latah sempat mengejutkan dunia luar yang kemudian mereka buru-buru menyebutnya sebagai perilaku abnormal, perilaku kegilaan, dan di luar batas kewajaran. Nyata adanya ketika tiba-tiba bentuk lingual yang merujuk pada alat kelamin laki-laki tiba-tiba terungkap dengan spontan. Hal inilah yang menyebabkan beberapa peneliti Barat menyebutnya sebagai penyakit jiwa, atau sebuah kondisi yang sulit dimengerti sebab akibatnya (Geertz 1968. Chaer (2009: 154) memberikan gambaran tentang awal mula timbulnya latah ini, menurut mereka yang terserang latah, adakah setelah bermimpi melihat banyak sekali penis lelaki sebesar dan sepanjang belut.
PEMBAHASAN
Pengertian Latah
Latah sering disamakan dengan ekolalla yaitu perbuatan membeo atau menirukan apa yang dikatakan orang lain. Latah merupakan suatu emosi kebudayaan yang khas dari masyarakat (Gimmlette, 1912; Kenny, 1978; dan Winzeler, 1995 dalam Kadir, 2009: 50). Namun Chaer (2009: 154) memberikan gambaran tentang awal mula timbulnya latah ini, menurut mereka yang terserang latah, adakah setelah bermimpi melihat banyak sekali penis lelaki sebesar dan sepanjang belut. Pendapat Gimmlette, Kenny, Winzeler, dan Geentz dilengkapi oleh Dardjowidjojo ( 2008: 154 ) yang menekankan aspek prilaku seperti yang diungkapkan Chaer (2009). Beliau berkata bahwa latah merupakan suatu tindak kebahasaan di mana seseorang ketika terkejut atau dikejutkan mengeluarkan katakata secara spontan dan tidak sadar dengan apa yang dikatakan.
Winzeler (1995:74-78) menyampaikan hasil penelitiannya terkait perilaku latah yang terjadi pada masyarakat pribumi sebagai sebuah bentuk ketakutan pada kolonial yang berbadan tinggi, besar dan bekulit putih.
Latah adalah suatu tindak kebahasaan pada waktu seseorang terkejut atau dikejutkan, tanpa sengaja mengeluarkan kata-kata secara spontan dan tidak sadar dengan apa yang diucapkannya. (soenjono dardjowidjojo, 2003 : 154). Menurut psikolog eva septiana barlianto m.si, “latah adalah kebiasaan mengulang kata-kata terakhir yang diucapkan berkali-kali terutama pada kondisi kaget atau situasi tidak sesuai dengan orang yang bersangkutan. Latah bisa berupa kata lengkap atau hanya potongan kata paling akhir.
Jurnal pertama mengungkapkan bahwa latah itu merupakan kegiatan meirukan orang lain, dijurnal yang kedua menyebutkan bahwa latah itu sendiri adalah suatu bentuk perilaku karena merasa takut pada kolonial yang berbadan tinggi, besar dan bekulit putih, edangkan di teori yang terakhir menyebutkan bahwa layah itu sendiri merupakan reaksi terkejut yang dialami seseorang sehingga dia seketika melontarkan kata-kata yang tidak ia sadari. Dari ketiga sumebr jurnal diatas, diketahui jika pengetian dari latah itu sendiri merupakan perilaku meniru perkataan orang lain yang disebabkan karena reaksi terkejut dan melontarkan kata-kata yang tidak disadarinya.
B. Penyebab Latah
Latah diketahui dari penelitian sebelumnya disebabkan karena mimpi alat kelamin. Penuturan mencengangkan bahwa mimpi seperti itu tidak hanya sekali namun terus berulang, bahkan semakin hari semakin ekstrem. Keekstreman mimpi yang menggambarkan alat kelamin yang terus-menerus mengejarnya, dalam jumlah sangat banyak, bergelantungan di kamar tidurnya, ada yang terletak dalam keranjang dengan tekstur besar dan merah, melompat-lompat dan terus mengejarnya, sungguh membuat pengalaman traumatis bagi individu dengan kepribadian tertentu (Maramis 2009).
Peristiwa psikologis yang melatar belakangi munculnya bentuk lingual menjadi energi lebih yang mendorong terbentuknya pola perilaku latah. Penuturan para informan sungguh mencengangkan yang kemudian membenarkan teori Freud (1987, 2006) dan Jung (1989), yang menyebutkan bahwa peristiwa psikologis yang menahun dan ditahan karena tidak dapat terealisasi dalam kenyataan maka hal tersebut tidak akan pernah hilang. Peristiwa yang diinginkan tersebut tetap akan bertahan dalam diri manusia (baca:otak) yang terus menunggu pemenuhan. Pemenuhan yang tidak kunjung datang akhirnya hal tersebut dipindahkan penyimpanannya dalam otak taksadar manusia. Proses penahanan dalam otak tak sadar manusia pun masih berharap mencapai pemenuhan, namun bila tidak, hal tersebut akan diubah bentuknya dalam mimpi. Penggambaran mimpi seperti disebutkan di atas dan kemudian muncul reaksi perilaku latah dengan sederet bentuk lingual yang muncul yang merujuk pada alat kelamin, disebutkan oleh Jung (1989) hal itulah sebenarnya penyebabnya. Artinya, bentuk lingual yang secara spontan muncul tersebut merupakan gambaran dari keinginan yang tidak dapat terealisasikan dalam kenyataan. Sedangkan, gambaran mimpi yang demikian ekstrim disebutkan oleh Jung hal itulah yang sebenarnya menjadi pemicu.
Hal tersebut di atas terjadi pada individu latah. Kata-kata yang ke luar dari individu latah seolah tanpa kontrol, sehingga dianggap tabu karena kata-kata yang keluar rata-rata adalah kata-kata yang mengandung makna “tabu atau kurang sopan” dalam masyarakat. Penutur (individu latah) sebenarnya tidak nyaman dengan kondisi tersebut, namun pada saat kesadarannya menurun (ditepuk, jatuhnya sebuah objek), tiba-tiba kata-kata “tabu” tersebut muncul begitu saja.
Maramis (dalam Chaer, 2002: 154) mengatakan bahwa awal mula timbulnya latah menurut mereka yang terserang latah adalah setelah bermimpi melihat banyak sekali penis laki-laki sebesar dan sepanjang belut. Latah ini punya korelasi dengan kepribadian histeris. Kelatahan ini merupakan “excause” atau alasan untuk dapat berbicara dan bertingkah laku porno, yang pada hakikatnya berimplikasi invitasi seksual. Khaltarina mengungkapkan bahwa, ”latah memiliki dimensi gangguan fungsi pusat syaraf, psikologis, dan sosial. Berdasarkan kajian yang dilakukan, gangguan latah biasanya tumbuh dalam masyarakat terbelakang yang menerapkan budaya otoriter. Latah dianggap sebagai satu sindrom budaya masyarakat setempat.”
C Solusi Mengatasi Latah
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku latah dapat terjadi akibat seringnya subyek berinteraksi dengan orang-orang yang juga menderita latah, sehingga terjadi proses pengamatan. Di samping itu, penguat positif yang diberikan oleh orang-orang sekitarnya menyebabkan subyek cenderung mempertahankan perilaku latahnya. Pada awal latahnya,subyek merasakan ketidak nyamanan, sehingga mengupayakan untuk sembuh, akan tetapi karena upayanya tidak membuahkan hasil mereka akhirnya bisa menerima keadaan dirinya yang latah.
Sedangkan upaya-upaya yang dilakukan, antara lain memakan jangkrik, melakukan shock therapy setiap hari Jum’at, bersikap judes supaya tidak diganggu, menggigit lidah agar tidak mudah latah, mengikuti terapi FGD, disiram dengan air bekas cucian perabot rumah tangga, meminum air yang sudah dijampi-jampi ataupun di do’a-do’a. Adapun upaya-upaya yang dilakukan tidak membuahkan hasil dalam mengatasi perilaku latah, disebabkan karena selain ada kecenderungan mempertahankan perilaku latahnya untuk mendapat perhatian, lingkungan juga kurang mendukung kesembuhan subyek, di samping itu juga disebabkan ketidak tahuan subyek mengenai cara penanganan yang benar yaitu dengan berkonsultasi kepada dokter atau ahli jiwa.
Sedangkan menurut penulis, solusi yang tepat dalam menangani gangguan ini adalah dengan tidak berkumpul dengan orang yang suka memaning timbulnya kelatahan tersebut, dan sedikit demi sedikit menoba agar tidak gampang terpancing dan kaget dengan suatu hal. Solusi lain untuk mengatasi gangguan ini dadalah dengan mengganti kata- kata yang dianggap tabu dengan kata yang baik didengar.
DAFTAR PUSTAKA
Indah, R. N. (2017). Gangguan berbahasa: Kajian pengantar.
KUSUMAWATI, K. (2009). GANGGUAN LATAH (Studi Tentang Faktor Penyebab dan Kondisi Psikologis) (Doctoral dissertation, University of Muhammadiyah Malang).
Sri Pamungkas Dkk. 2017. Menafsir Perilaku Latah Coprolalia pada Perempuan Latah dalam Lingkup Budaya Mataraman: Sebuah Kajian Sosiopsikolinguistik. Jurnal pendidikan .17 (2):273-290
Tidak ada komentar:
Posting Komentar