Senin, 07 Oktober 2019

Gangguan Berbahasa Latah

KHUSNA WULANDARI
A1D117020
khusna.wulandari 99@gmail.com

" GANGGUAN BERBICARA LATAH "

LATAR BELAKANG
Proses berbahasa dimulai dengan enkode semantik, enkode gramatika, dan enkode fonologi. Enkode semantik dan enkode gramatik diproses di dalam otak, sedangkan enkode fonologi diproses di otak dan diwujudkan oleh alat-alat bicara yang  melibatkan  sistem  saraf  otak  (neuromiskuler)  (Chaer,  2009:  148).  Prosesproses  enkode  tersebut  harus  berjalan  beriringan,  karena  apabila  satu  proses mengalami  gangguan,  maka  akan  menghambat  hasil  akhirnya  yakni  berupa tuturan, dan tentunya yang dimaksudkan tuturan di sini adalah  tuturan yang sesuai dengan maksud, ketatabahasaan, dan dimengerti oleh pendengar. Secara medis Sidharta (Chaer, 2009: 148) membedakan gangguan bahasa menjadi tiga golongan, yakni ganguan berbicara, gangguan berbahasa, dan gangguan berpikir. Beliau menambahkan ketiga gangguan ini masih dapat diatasi kalau  penderita  gangguan  ini  mempunyai  daya  dengar  yang  normal,  bila  tidak tentu menjadi sukar. Beliau memadukan kedua aliran yang begitu kuatnya yakni nativisme  (mentalisme)  dan  behaviorime,  beliau  juga  menghendaki  faktor auditoris  sebagai  solusi  mengatasi  gangguan  berbahasa  (language  disorders). 

Fenomena latah sempat mengejutkan dunia luar yang kemudian mereka buru-buru menyebutnya  sebagai  perilaku  abnormal,  perilaku  kegilaan,  dan  di  luar  batas kewajaran. Nyata adanya ketika tiba-tiba bentuk lingual yang merujuk pada alat kelamin laki-laki tiba-tiba terungkap dengan spontan. Hal inilah yang menyebabkan beberapa  peneliti  Barat  menyebutnya  sebagai  penyakit  jiwa,  atau  sebuah  kondisi yang sulit dimengerti sebab akibatnya (Geertz 1968. Chaer  (2009:  154)  memberikan  gambaran tentang  awal  mula  timbulnya  latah  ini,  menurut  mereka  yang  terserang  latah, adakah setelah bermimpi melihat banyak sekali penis lelaki sebesar dan sepanjang belut.

PEMBAHASAN

Pengertian Latah

Latah sering  disamakan  dengan  ekolalla  yaitu  perbuatan  membeo  atau menirukan apa yang dikatakan  orang  lain. Latah  merupakan  suatu  emosi kebudayaan  yang  khas  dari  masyarakat  (Gimmlette,  1912;  Kenny,  1978;  dan Winzeler, 1995 dalam Kadir, 2009: 50). Namun  Chaer  (2009:  154)  memberikan  gambaran tentang  awal  mula  timbulnya  latah  ini,  menurut  mereka  yang  terserang  latah, adakah setelah bermimpi melihat banyak sekali penis lelaki sebesar dan sepanjang belut. Pendapat  Gimmlette,  Kenny,  Winzeler,  dan  Geentz  dilengkapi  oleh Dardjowidjojo  (  2008:  154 )  yang  menekankan  aspek  prilaku  seperti  yang diungkapkan  Chaer  (2009).  Beliau  berkata  bahwa  latah  merupakan  suatu  tindak kebahasaan di mana seseorang ketika terkejut atau dikejutkan mengeluarkan katakata secara  spontan  dan  tidak  sadar  dengan  apa  yang  dikatakan.
Winzeler (1995:74-78) menyampaikan hasil penelitiannya terkait perilaku latah yang terjadi  pada  masyarakat  pribumi  sebagai  sebuah  bentuk  ketakutan  pada  kolonial yang  berbadan  tinggi,  besar  dan  bekulit  putih.
 Latah adalah suatu tindak kebahasaan pada waktu seseorang terkejut atau dikejutkan, tanpa sengaja mengeluarkan kata-kata secara spontan dan tidak sadar dengan apa yang diucapkannya. (soenjono dardjowidjojo, 2003 : 154). Menurut psikolog eva septiana barlianto m.si, “latah adalah kebiasaan mengulang kata-kata terakhir yang diucapkan berkali-kali terutama pada kondisi kaget atau situasi tidak sesuai dengan orang yang bersangkutan. Latah bisa berupa kata lengkap atau hanya potongan kata paling akhir.
Jurnal pertama mengungkapkan bahwa latah itu merupakan kegiatan meirukan orang lain, dijurnal yang kedua menyebutkan bahwa latah itu sendiri adalah suatu bentuk perilaku karena merasa takut pada  kolonial yang  berbadan  tinggi,  besar  dan  bekulit  putih, edangkan di teori yang terakhir menyebutkan bahwa layah itu sendiri merupakan reaksi terkejut yang dialami seseorang sehingga dia seketika melontarkan kata-kata yang tidak ia sadari. Dari ketiga sumebr jurnal diatas, diketahui jika pengetian dari latah itu sendiri merupakan perilaku meniru perkataan orang lain yang disebabkan karena reaksi terkejut dan melontarkan kata-kata yang tidak disadarinya.

B. Penyebab Latah

Latah diketahui dari penelitian sebelumnya disebabkan karena mimpi alat kelamin. Penuturan mencengangkan bahwa mimpi seperti itu tidak hanya sekali namun terus berulang,  bahkan  semakin  hari  semakin  ekstrem.  Keekstreman  mimpi  yang menggambarkan  alat  kelamin  yang  terus-menerus  mengejarnya,  dalam  jumlah sangat  banyak,  bergelantungan  di  kamar  tidurnya,  ada  yang  terletak  dalam keranjang  dengan  tekstur  besar  dan  merah,  melompat-lompat  dan  terus mengejarnya,  sungguh  membuat  pengalaman  traumatis  bagi  individu  dengan kepribadian tertentu (Maramis  2009).
Peristiwa  psikologis  yang  melatar belakangi  munculnya  bentuk  lingual  menjadi energi  lebih  yang  mendorong  terbentuknya  pola  perilaku  latah.  Penuturan  para informan  sungguh  mencengangkan  yang  kemudian  membenarkan  teori  Freud (1987,  2006)  dan  Jung  (1989),  yang  menyebutkan  bahwa  peristiwa  psikologis  yang menahun  dan  ditahan  karena  tidak  dapat  terealisasi  dalam  kenyataan  maka  hal tersebut  tidak  akan  pernah  hilang.  Peristiwa  yang  diinginkan  tersebut  tetap  akan bertahan  dalam  diri  manusia  (baca:otak)  yang  terus  menunggu  pemenuhan. Pemenuhan  yang  tidak  kunjung  datang  akhirnya  hal  tersebut  dipindahkan penyimpanannya  dalam  otak  taksadar  manusia.  Proses  penahanan  dalam  otak  tak sadar  manusia  pun  masih  berharap  mencapai  pemenuhan,  namun  bila  tidak,  hal tersebut akan diubah bentuknya dalam mimpi. Penggambaran  mimpi  seperti  disebutkan  di  atas  dan  kemudian  muncul  reaksi perilaku latah dengan sederet bentuk lingual yang muncul yang merujuk pada alat kelamin, disebutkan oleh Jung (1989)  hal itulah sebenarnya penyebabnya. Artinya, bentuk  lingual  yang  secara  spontan  muncul  tersebut  merupakan  gambaran  dari keinginan yang tidak dapat terealisasikan dalam kenyataan. Sedangkan, gambaran mimpi  yang  demikian  ekstrim  disebutkan  oleh  Jung  hal  itulah  yang  sebenarnya menjadi pemicu.
Hal tersebut di atas terjadi pada individu latah. Kata-kata yang ke luar dari individu latah seolah tanpa kontrol, sehingga dianggap tabu  karena  kata-kata  yang  keluar  rata-rata  adalah  kata-kata  yang  mengandung makna  “tabu  atau  kurang  sopan”  dalam  masyarakat.  Penutur  (individu  latah) sebenarnya tidak nyaman dengan kondisi tersebut, namun pada saat kesadarannya menurun  (ditepuk,  jatuhnya  sebuah  objek),  tiba-tiba  kata-kata  “tabu”  tersebut muncul begitu saja.
Maramis (dalam Chaer, 2002: 154) mengatakan bahwa awal mula timbulnya latah menurut mereka yang terserang latah adalah setelah bermimpi melihat banyak sekali penis laki-laki sebesar dan sepanjang belut. Latah ini punya korelasi dengan kepribadian histeris. Kelatahan ini merupakan “excause” atau alasan untuk dapat berbicara dan bertingkah laku porno, yang pada hakikatnya berimplikasi invitasi seksual. Khaltarina mengungkapkan bahwa, ”latah memiliki dimensi gangguan fungsi pusat syaraf, psikologis, dan sosial. Berdasarkan kajian yang dilakukan, gangguan latah biasanya tumbuh dalam masyarakat terbelakang yang menerapkan budaya otoriter. Latah dianggap sebagai satu sindrom budaya masyarakat setempat.”

C Solusi Mengatasi Latah

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku latah dapat terjadi akibat seringnya subyek berinteraksi dengan orang-orang yang juga menderita latah, sehingga terjadi proses pengamatan. Di samping itu, penguat positif yang diberikan oleh orang-orang sekitarnya menyebabkan subyek cenderung mempertahankan perilaku latahnya. Pada awal latahnya,subyek merasakan ketidak nyamanan, sehingga mengupayakan untuk sembuh, akan tetapi karena upayanya tidak membuahkan hasil mereka akhirnya bisa menerima keadaan dirinya yang latah.
Sedangkan upaya-upaya yang dilakukan, antara lain memakan jangkrik, melakukan shock therapy setiap hari Jum’at, bersikap judes supaya tidak diganggu, menggigit lidah agar tidak mudah latah, mengikuti terapi FGD, disiram dengan air bekas cucian perabot rumah tangga, meminum air yang sudah dijampi-jampi ataupun di do’a-do’a. Adapun upaya-upaya yang dilakukan tidak membuahkan hasil dalam mengatasi perilaku latah, disebabkan karena selain ada kecenderungan mempertahankan perilaku latahnya untuk mendapat perhatian, lingkungan juga kurang mendukung kesembuhan subyek, di samping itu juga disebabkan ketidak tahuan subyek mengenai cara penanganan yang benar yaitu dengan berkonsultasi kepada dokter atau ahli jiwa.
Sedangkan menurut penulis, solusi yang tepat dalam menangani gangguan ini adalah dengan tidak berkumpul dengan orang yang suka memaning timbulnya kelatahan tersebut, dan sedikit demi sedikit menoba agar tidak gampang terpancing dan kaget dengan suatu hal. Solusi lain untuk mengatasi gangguan ini dadalah dengan mengganti kata- kata yang dianggap tabu dengan kata yang baik didengar.


DAFTAR PUSTAKA
Indah, R. N. (2017). Gangguan berbahasa: Kajian pengantar.

KUSUMAWATI, K. (2009). GANGGUAN LATAH (Studi Tentang Faktor Penyebab dan Kondisi Psikologis) (Doctoral dissertation, University of Muhammadiyah Malang).

Sri Pamungkas Dkk. 2017. Menafsir Perilaku Latah Coprolalia pada Perempuan Latah dalam Lingkup Budaya Mataraman: Sebuah Kajian Sosiopsikolinguistik. Jurnal pendidikan .17 (2):273-290

Gangguan berbahasa pada anak (gagap)

GANGGUAN BERBAHASA PADA ANAK USIA DINI
( GAGAP )

Disusun untuk memenuhi nilai mata kuliah
KAJIAN KEBAHASAAN



Disusun Oleh :
MUHAMMAD LUTHFI ( A1D117005 )
KELOMPOK 10

Dosen Pengampu : Drs. Maryono. M.Pd



PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2019


BAB1
PENDAHULUAN

KATA PENGANTAR

Puji syukur alhamdulillah kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena telah melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan sehingga makalah ini bisa selesai pada waktunya.
Terima kasih juga kami ucapkan kepada teman-teman yang telah berkontribusi dengan memberikan ide-idenya sehingga makalah ini bisa disusun dengan baik dan rapi.
Kami berharap semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan para pembaca. Namun terlepas dari itu, kami memahami bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga kami sangat mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun demi terciptanya makalah selanjutnya yang lebih baik lagi.








LATAR BELAKANG

Gagap adalah kondisi di mana penderitanya mengalami gangguan dalam berbicara. Penderita gagap biasanya mengulang suku kata atau memperpanjang penyebutan suatu kata ketika berbicara.
Gagap dapat dialami oleh segala usia. Umumnya, kondisi ini diderita oleh anak-anak usia di bawah 5 tahun. Gagap pada anak usia tersebut merupakan bentuk ketidakmampuan dalam menyampaikan maksud. Hal ini tergolong wajar dan dapat hilang dengan sendirinya, seiring bertambahnya usia.
Namun, gagap juga dapat disebabkan karena adanya gangguan pada otak, saraf, atau otot yang terlibat dalam kemampuan berbicara. Jika dibiarkan, kondisi gagap dapat memburuk, serta berdampak pada hilangnya kepercayaan diri dan mengganggu hubungan sosial.
Definisi Gagap Menurut KBBI adalah : gangguan bicara (kesalahan dl ucapan dengan mengulang-ulang bunyi, suku kata atau kata, kelainan bicara berupa pengulangan konsonan dan suku kata secara spasmodis, disebabkan oleh gangguan psikofisiologis dan lebih banyak terjadi pada pria.
Chaer (2009:153) menjelaskan bahwa gagap merupakan suatu kondisi dimana pembicara mengalami kekacauan saat berbicara karena tersendat-sendat, mendadak berhenti, mengulang-ulang suku kata pertama hingga penderita berhasil  berbicara hingga selesai. Penderita gagap ini sering kali tidak berhasil mengucapkan suku kata awal, dengan susah payah hanya mampu mengucapkan konsonan atau vokal awalnya saja. Lalu, ia memilih kata lain dan berhasil menyelesaikan kalimat tersebut meskipun dengan susah payah juga.

BAB II
PEMBAHASAN
PENGERTIAN GAGAP
Gagap adalah ketidaknormalan verbalisasi kata yaitu tingginya penghentian bicara, suku kata atau salah satu huruf dalam suku kata, penahanan dan pengulangan bunyi, serta penggantian kata untuk menghindari kata yang menimbulkan masalah (Bogue, 2009; Guitar, 2006; Halgin & Whitbourne, 2010; Parker & Parker, 2002; Walden, dkk., 2012). Orang dengan gangguan gagap berbicara dengan penekanan fisik yang berlebihan seperti sulit bernafas, mata berkedip cepat, mulut bergetar dan ekspresi wajah seperti berjuang keras untuk bicara (Mahr & Torosian, 1991).
American Psychiatric Association (2000) dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV TR) kode 307.0 memuat kriteria gagap yaitu :1. Gangguan pola dan ketidaklancaran bicara di usia yang tidak seharusnya, karakteristik diikuti oleh satu atau lebih tanda : a. Pengulangan bunyi dan suku kata b. Perpanjangan bunyi kata c. Interjeksi atau penyisipan dalam kalimat  d. Kata-kata yang rusak (ada penghentian pada kata atau kata-kata yang terputus-putus) e. Menahan suara atau diam (berisi jeda selama berbicara)  f. Memakai kata yang banyak (mengganti kata-kata untuk menghindari katakata yang bermasalah)  g. Mengatakan sesuatu dengan penekanan fisik yang berlebihan h. Mengulang kata atau suku kata keseluruhan (“Dari,dari mana kamu?”) 2. Gagap dapat mengganggu prestasi akademik atau kerja, dan komunikasi sosial 3. Jika kondisi neurologis untuk berbicara tidak berfungsi normal, maka tanda gangguan medis pada axis III ditegakkan.  Yairi dan Ambrose (2013) menyatakan gangguan gagap pada populasi di dunia mencapai 5% pada dekade terakhir ini. Penelitian itu terbatas pada negaranegara di Amerika, Eropa dan Australia. Pada beberapa negara lainnya, dilaporkan lebih besar hingga mencapai 8%.Prevalensi terjadinya gangguan gagap sepanjang rentang kehidupan adalah sekitar 1,99% pada usia 3 - 10 tahun dan menurun 1,15% pada usia 11 – 17 tahun. Rasio laki-laki dan perempuan adalah 4 : 1 (Drayna & Kang, 2011).
PENYEBAB GAGAP
Menurut Chaer (2009:153-154), kegagapan dapat terjadi karena beberapa faktor berikut.
Faktor-faktor stres dalam kehidupan berkeluarga. 
Pendidikan anak yang dilakukan secara keras dan kuat dengan membentak-bentak serta tidak mengizinkan anak berargumentasi dan membantah.
Adanya kerusakan pada belahan otak (hemisfer) yang dominan.
Faktor neurotik famial

Nujaya (2013) menyatakan bahwa gagap bisa disebabkan oleh faktor fisik maupun psikologis. Faktor fisik kemungkinan berasal dari keturunan yang menyebabkan ketidaksempurnaan secara fisik seperti gangguan pada syaraf  bicara, gangguan alat bicara, dan keterbatasan lidah. Sedangkan faktor psikologis yaitu ketagangan yang berasal dari reaksi seseorang terhadap linngkungan, diantaranya adalah stres mental karena sesuatu yang dirasakan namun tidak mampu untuk dilakukan.

Menurut penelitian, gagap lebih banyak disebabkan oleh faktor psikologis dibandingkan fisiologis. Trauma, ketakutan, kecemasan, dan kesedihan pada masa kecil menyebabkan seseorang menjadi gagap sampai dewasa. Misalnya, anak yang kedua orangtuanya sering bertengkar sehingga membuat anak takut, cemas, sedih, dan sering menangis.

Terjadinya gagap dipengaruhi oleh beberapa faktor. Dalam literatur dijelaskan kemungkinan faktor risiko gagap sangat banyak, termasuk jenis kelamin, predisposisi genetik, stress emosional dan fisik, reaksi personal, keluarga dan sosial serta perilaku keluarga. Jenis kelamin merupakan faktor risiko penting untuk gagap. Jika dijumpai gangguan komunikasi, risiko terkena gagap paling tinggi pada anak laki-laki. Stress emosional dapat merupakan awal terjadinya gagap seperti perceraian orangtua, kematian hewan peliharaan. Stress fisik yang dapat menjadi awal terjadinya gagap seperti masalah pernafasan, pembedahan atau penyakit yang memerlukan perawatan.Perilaku keluarga yang tidak baik juga mempengaruhi ketidaklancaran bicara pada anak.Salah satunya kecepatan ibu berbicara kepada anak mempengaruhi kemampuan anak berbicara. Sebuah studi menunjukkan penurunan kecepatan ibu berbicara menyebabkan penurunan kecepatan anak berbicara sehingga terjadi perbaikan kelancaran bicara pada anak yang gagap.

Manifestasi klinis, Beberapa orang gagap, memiliki masalah bahasa dan bicara lain, seperti gangguan fonologi atau gangguan bahasa ekspresif. Gagap tidak terjadi tiba-tiba, tetapi secara khas terjadi selama beberapa minggu atau bulan dengan pengulangan konsonan awal, keseluruhan kata pertama di dalam ucapan, atau kata-kata yang panjang. Seiring dengan berkembangnya gangguan, pengulangan menjadi lebih sering, dengan gagap yang konsisten pada kata-kata atau ucapan yang paling penting.

Anak gagap memilki masalah dalam mengucapkan kata, seperti mengulang kata atau suku kata berulang-ulang (boleh-boleh-bolehkah saya pergi), membuat suara panjang (boooooooooolehkah saya pergi), berhenti tiba-tiba tanpa ada suara yang terdengar. Orang gagap dapat disertai dengan beberapa gejala fisik, seperti kedipan mata, kerutan pada kening, kekakuan yang jelas pada wajah. Frustasi, ansietas, dan depresi lazim ditemukan pada orang dengan gagap kronis.



CARA PENGOBATAN GAGAP
TERAPI
Di masa lalu, pendekatan terapi gagap berdasarkan etiologinya. Awalnya modalitas terapi gagap berfokus pada kelainan lidah atau laring. Saat ini modalitas terapi gagap berdasarkan prinsip perilaku yang bertujuan untuk menghasilkan bicara yang lebih fasih, disertai pengurangan kecemasan yang berhubungan dengan gangguan bicara. Terapi gagap meliputi latihan pernafasan, teknik relaksasi dan terapi bicara untuk membantu anak memperlambat bicara dan mengatur volume bicara. Satu contoh terapi yang diajukan oleh Speech Foundation of Americaadalah terapi diri sendiri. Terapi diri sendiri didasari pada pemikiran bahwa gagap bukanlah suatu gejala tetapi suatu perilaku yang dapat diubah. Metodenya mencakup desensitisasi, mengurangi reaksi mental dan rasa takut akan gagap, serta penggantian tindakan postif untuk mengendalikan saat gagap.

Terapi yang baru-baru ini dikembangkan berpusat pada restrukturisasi kelancaran. Keseluruhan pola produksi bicara dibentuk kembali, dengan penekanan pada berbagai perilaku target, termasuk pengurangan laju, onset bersuara dengan halus dan mudah, serta transisi yang halus antara bunyi, suku kata dan kata. Terapi farmakologi sudah banyak di uji coba, tetapi sampai saat ini belum ada yang disetujui oleh the U.S Food and Drug Administration(FDA) sebagai terapi untuk gagap.
Penelitian pencitraan menduga orang gagap mengalami hipometabolisme striatum dan peningkatan aktivitas dopamin. Bukti ini menunjukkan bagaimana antagonis dopamin menurunkan gagap dengan meningkatkan metabolisme striatal melalui penghambatan reseptor D2 di striatum. Penelitian farmakologi menunjukkan aktivitas dopamin yang rendah sesuai dengan perbaikan gejala gagap. Terapi farmakologi yang dapat digunakan antara lain: .Haloperidol. Beberapa studi tentang haloperidol, antagonis dopamin konvensional dan antipsikotik, menunjukkan pengobatan ini dapat memperbaiki kelancaran pada anak gagap.
Tetapi penggunaan jangka panjang haloperidol dapat menyebabkan efek samping disforia, disfungsi seksual, gangguan ekstrapiramidal, dan risiko diskinesia. Sebuah penelitian uji acak tertutup ganda tentang penggunaan haloperidol pada gagap, menunjukkan delapan pasien mengalami perbaikan klinis dalam hal waktu gangguan kelancaran bicara, tetapi perbaikan ini bermakna hanya pada pasien yang mengalami gangguan kelancaran lebih dari 30%2.Risperidon. Generasi terbaru antagonis dopamin yang memiliki efek samping lebih sedikit dibandingkan dengan haloperidol adalah risperidon, dalam sebuah uji acak tertutup ganda risperidon memperbaiki gejala gagap dengan dosis 0.5-2 mg/hari

Baca Buku
Mintalah Si Kecil untuk membaca buku dengan suara keras. Meski diawal percobaan ia akan sulit mengatur napas, tapi dengan cara ini ia bisa belajar berbicara lancar maupun mengatur napas. Perlu diketahui, jika salah satu masalah besar anak-anak yang gagap adalah bernapas saat membaca atau berbicara. Untuk belajar cara mengatur napas, Si Kecil perlu berlatih cara sederhana seperti menghirup dan menghembuskan napas. Ini juga akan membantunya berbicara dalam kecepatan sedang.
PENGOBATAN DI RUMAH
Apa saja perubahan-perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi gagap?
Berikut adalah gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda mengatasi gagap:
Dengarkan anak Anda dengan penuh perhatian: jaga kontak mata alami saat ia berbicara.
Tunggu anak Anda hingga mengatakan kata-kata yang ingin ia katakan: jangan memotongnya untuk menyelesaikan kalimat.
Sisakan waktu untuk Anda dapat berbicara dengan anak tanpa gangguan: waktu makan adalah kesempatan untuk pembicaraan dengan anak.
Berbicara dengan perlahan dan tidak terburu-buru: jika Anda berbicara dengan cara ini, anak Akan mengikuti Anda, yang dapat mengurangi gagap.
Bergantian dalam berbicara: dorong setiap anggota keluarga agar menjadi pendengar yang baik dan bergantian saat berbicara.
Buatlah suasana tenang: buatlah atmosfir yang tenang di rumah agar anak Anda merasa nyaman berbicara dengan leluasa.
Jangan terfokus pada kondisi gagap anak: cobalah untuk tidak menarik perhatian pada kondisi gagap dalam interaksi sehari-hari. Jangan mengekspos anak Anda kepada situasi yang terburu-buru, tertekan, atau memerlukan anak Anda untuk berbicara di depan umum.
Berikan lebih banyak pujian daripada kritik: lebih baik memuji anak untuk berbicara dengan lancar daripada menarik perhatian terhadap kondisi gagap. Jika Anda ingin memperbaiki bicara anak, lakukan dengan cara yang lembut dan positif.
Terima anak Anda sepenuhnya: jangan bereaksi negatif, mengkritik, atau menghukum anak Anda karena gagap. Hal ini dapat menambahkan perasaan tidak percaya diri. Dukungan dapat memberikan perubahan yang besar.












BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Gagap adalah gangguan bicara yang membuat suku kata atau kata-kata diulang atau diucapkan secara berkepanjangan sehingga mengganggu aliran bicara yang normal. Gangguan bicara ini dapat disertai dengan perilaku berulang, seperti kedipan mata yang cepat dan bibir bergetar.

Gagap umum terjadi pada anak-anak sebagai bagian normal dari belajar berbicara. Anak-anak kecil mungkin gagap saat kemampuan bicara dan berbahasa tidak cukup berkembang untuk mengikuti apa yang ingin dikatakan.









DAFTAR PUSTAKA
ARTIKEL NADYA PUSPITA SARI – PENELITIAN MASALAH GAGAP PADA ANAK DI SUMATERA BARAT – UNIVERSITAS ANDALAS – 2015
JURNAL PENGOBATAN MASALAH BERBAHASA PADA ANAK OLEH PRABA PRAYASCITTA – PROGRAM STUDI BIOLOGI – UNIVERSITAS GAJAH MADA – 2009
EMPATHIC LOVE THERAPY UNTUK MENURUNKAN KECEMASAN PADA ORANG DENGAN GANGGUAN GAGAP - I PUTU ARDIKA YANA - Universitas Gadjah Mada – 2015
ANALISIS GANGGUAN GAGAP – HENY PURWANINGSIH – UNIVERSITAS PADJAJARAN - 2012

Jumat, 21 September 2018

MATERI 1 HAKIKAT KETERAMPILAN BERBAHASA

HAKIKAT KETERAMPILAN BERBAHASA
A.           Pengertian Keterampilan Berbahasa
Seseorang dikatakan memiliki keterampilan berbahasa ketika orang tersebut mampu mengolah suatu bahasa dengan baik sehingga mampu menggunakannya dalam situasi dan kondisi yang tepat. Dalam suatu masyarakat, setiap orang saling berhubungan dengan orang lain dengan cara berkomunikasi. Tidak dapat dipungkiri bahwa keterampilan berbahasa adalah salah satu unsur penting yang menentukan kesuksesan dalam berkomunikasi.
Dalam berkomunikasi dikenal istilah encoding dan decoding. Proses encoding adalah proses di mana pengirim pesan aktif memilih pesan yang akan disampaikan dan memformulasikannya dalam wujud lambang-lambang berupa bunyi/tulisan. Sedangkan proses decoding adalah proses penerjemahan lambang-lambang berupa bunyi/tulisan yang dikirim oleh pengirim pesan. Proses ini dilakukan oleh penerima pesan. Dari proses encoding dan decoding tersebut dapat dilihat bahwa pengirim pesan maupun penerima pesan sama-sama dituntut untuk memiliki keterampilan berbahasa.
Empat keterampilan berbahasa yang harus dikuasai di antaranya yaitu:
1.      Berbicara
Berbicara adalah kegiatan menyampaikan pesan yang berupa pikiran, perasaan, fakta, maupun kehendak dengan menggunakan lambang berupa bunyi-bunyi bahasa yang diucapkan. Selanjutnya pesan yang diformulasikan dalam wujud bunyi-bunyi (bahasa lisan) tersebut disampaikan kepada penerima pesan.
2.      Menyimak
Kegiatan menyimak bukan hanya sekedar kegiatan mendengarkan. Selama ini masyarakat sering menyamakan arti dari kedua hal tersebut. Menyimak adalah kegiatan mendengarkan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh sampai pada tingkat memahami isi dari bahan simakan.
3.      Menulis
Menulis merupakan kegiatan menyampaikan pesan dengan lambang berupa tulisan. Pengirim pesan mengubah pesan menjadi bentuk-bentuk bahasa tulis kemudian dikirimkan kepada penerima pesan.
4.      Membaca
Membaca adalah kegiatan memaknai bentuk-bentuk bahasa tertulis sehingga pesan dapat diterima secara utuh.
Dari keempat pengertian di atas maka dapat diuraikan secara singkat dengan:
1.      Berbicara: proses encoding oleh pengirim pesan berupa lambang bunyi.
2.      Menyimak: proses decoding oleh penerima pesan berupa lambang bunyi.
3.      Menulis: proses encoding oleh pengirim pesan berupa lambang tulisan.
4.      Membaca: proses decoding oleh penerima pesan berupa lambang tulisan.

MATERI 3


MATERI 3


Strategi  merupakan suatu seni merancang kegiatan proses pembelajaran bahasa adalah tindakan pengajaran melaksanakan rencana mengajar bahasa. Sedangkan strategi pembelajaran keterampilan menyimak adalah seni merancang tindakan pelaksanaan proses pembelajaran mengenai kemampuan menginformasikan kembali pembelajarannya melalui keterampilan berbicara maupum menulis. Dalam belajar mengajar melaksankan.

Davis Nun menganjurkan bahwa kata mendesain aktivitas yang mengajarkan keterampilan dalam proses batten-up dan tap- desain sebagaimana merekan memainkan peran yang penting, tetapi berbeda dalam mendengarkan. Penting pula untuk mengajakan para pelajar strategi – strategi spesifik yang dapat membantu mereka mengerti proses pokok yang mendekati proses mendengarkan, sehingga secara berangsur-angsur mereka dapat mengansumsikan contoh pembelajaran mereka yang lebih baik. Diantara straetgi – strategi kuncinya yang dapat di ajarkan adalah memprediksi, mendengar secara selektif, mendengar untuk banyak maksud, menarik kesimpulan dan mempresentasikan.

MATERI 2 PENGERTIAN DAN MANFAAT KETERAMPILAN BERBAHASA


MATERI 2


PENGERTIAN DAN MANFAAT KETERAMPILAN BERBAHASA

Keterampilan berbahasa adalah Keterampilan seseorang untuk mengungkapkan sesuatu dan memahami sesuatu yang diungkapkan oleh orang lain dengan media bahasa, baik secara lisan maupun tulisan. Tidak dapat diungkiri bahwa keterampilan berbahasa adalah salah satu unsur penting yang menentukan kesuksesan mereka dalam berkomunikasi.

MANFAAT KETERAMPILAN BERBAHASA

Dapat dibayangkan apabila kita tidak memiliki kemampuan berbahasa. Keterampilan berbahasa bermanfaat dalam melakukan komunikasi dan interaksi di masyarakat. Keterampilan berbahasa mencakup empat keterampilan berikut :
-          Keterampilan menyimak
-          Keterampilan berbicara
-          Keterampilan membaca
-          Keterampilan menulis

Keterampilan menyimak adalah salah satu jenis keterampilan berbahasa ragam lisan yang bersifat resektif. Keterampilan berbicara, merupakan salah satu jenis keterampilan berbahasa ragam lisan yang bersifat produktif. Keterampilan membaca, merupakan salah satu jenis keterampilan berbahasa ragam tulis yang bersifat reseptif. Keterampilan membaca dapat dikembangkan secara tersendiri, terpisah dari keterampilan menyimak dan menyimak.

            Keterampilan menulis, merupakan salah satu jenis keterampilan berbahasa ragam tulis yang bersifat produktif. Menulis dapat dikatakan keterampilan berbahasa yang paling rumit diantara jenis-jenis keterampilan berbahasa yang lain.